Sebuah ceruk bumi yang tidak semegah lembah Anai, namun cukup takjub juga jika dilihat dari atas. Perjalanan singkat yang mengesankan itu kumulai dengan menuruni tapak-tapak tangga yang menyajikan pemandangan itu… pemandangan ceruk bumi yang tidak semegah lembah Anai.
Komposisi hutan liar yang mungkin tidak begitu asli karena telah begitu dekat dengan pemukiman adalah pagar dari pemandangan menakjubkan itu. Kemudian sawah hijau membentang bagai permadani di kaki langit merupakan pekarangannya. Sebuah sungai selebar lima belas meteran membelah di tengah pekarangan itu, tepat seperti gambar pemandangan kita yang begitu seragam di masa pendidikan dasar. Lalu adalah sajian utamanya… sebuah perkampungan di tengahnya.
Perkampungan dengan rumah-rumah dinding papan putih dan atap rumbia. Sedikit dipanggungkan rumah itu dari bumi. Tidak setinggi rumah-rumah panggung sumatera yang bisa berjarak dua meter lebih, namun tidak lebih dari setengah meter. Menurut seorang pakar sosiolog yang aku lupa namanya yang berbincang kami dengannya di sana, material rumah di sini dibuat senatural mungkin dan sedikit menjejak tanah untuk mengantisipasi gempa.
Mungkin rumah yang dari kayu dan tidak menjejak tanah lebih mudah menyerap goncangan dari gempa. Atau karena material yang sederhana itu dianggap lebih murah jadi jika ambruk dia karena gempa, tidak terlalu rugi si empunya rumah. Prinsip ekonomi yang sangat logis rasa-rasanya.
Rumah-rumah ini dibangun tidak di atas tanah yang rata layaknya perumahan jaman sekarang. Yang mengharuskan pengurugan dan meratakan permukaan tanah. Di sini rumah-rumah dibangun di atas level-level tanah yang dibuat mengikuti kontur tebing di sana. Mirip dengan susunan rumah di bentaran sungai Bogor yang bertingkat-tingkat. Namun tidak sesak seperti yang ada di kota, rumah-rumah ini berjumlah seadanya dan tata letaknya begitu apik teratur. Sebuah objek foto yang menyenangkan.
Lagi-lagi menurut sosiolog yang sama, material rumah dan tata letak rumah pun cara pengaturan semua infrastruktur yang ada di kampung ini didasarkan kepada falsafah ajaran hidup mereka, keserasian dengan alam. Hidup berdasarkan harmonisasi dengan unsur-unsur alam yang lain. Tidak mendaulat ego manusia sebagai raja penguasa tamak di dalam kesehariannya. Mencoba memahami sebisa mungkin tentang aturan-aturan alam, menginstitusikan peraturan-peraturan itu, dan mengorganisasi konsensus nurani untuk mematuhinya.
Sistem irigasi yang dicoba mengikuti sifat air kemudian disesuaikan pemanfaatannya atas dasar sifat air di tiap-tiap bagian. Sistem sosial yang dibagi berdasarkan fungsi-fungsi yang ada di masyarakat (formal/ ekonomi, informal/ hubungan antar orang, dan agama). Proses belajar yang tidak dibagi dengan berbagai mata pelajaran, namun lebih kepada sumbernya (literatur, seorang guru, dan kontemplasi diri).
Mereka punya istilahnya masing-masing untuk falsafah-falsafah itu. Tapi tidak dapat kuingat satu pun. Namun tak mengapa juga kurasa, karena aku datang ke sana bukan untuk menghafal juga. Aku datang ke sana untuk belajar… belajar dari sebuah perjalanan… menikmati setiap detiknya… dan meresapi setiap pelajaran yang diberikan-Nya di dalam setiap momennya.
Sayangnya, proses belajarku hanya datang dari cerita sepotong-potong dari sang sosiolog serta obrolan sepatah-sepatah dari penduduk sekitar. Dan yang tertinggal dari buah fikir mereka yang dapat dibagi denganku hanyalah cerita tentang falsafah. Kearifan lokal yang diturunkan dari tiga generasi ke bawah secara lisan.
Berbagai catatan tertulis di dalam kitab-kitab keramat mereka telah dibumihanguskan DI/TII di tahun 50-an. Kitab-kitab yang berisi tentang historis kampung tua itu. Kemudian tentang kearifan yang terakumulasi sejak abad kesebelas atau ketujuh, karena mereka sendiri, para tetua kampung udzur ini, sudah tidak dapat memastikan lagi seberapa tua umur peradaban yang mereka huni.
Kejamnya keserakahan manusia untuk berkuasa. Menafikan pengetahuan dan nurani hanya agar dapat dipampang foto mereka di depan kelas berbagai sekolah. Manusia-manusia kerdil.
Karenanya para pemukim Kampung Naga saat ini harus mengais-ngais alam ingatannya untuk menegakkan tradisi yang mereka banggakan sembari kembali menghimpun kearifan lokalnya. Proses ini tentunya dilengkapi dengan penyimpangan-penyimpangan makna karena penjiwaan yang berbeda.
Terlepas dari semua itu, para tetua kampung tampaknya tidak risau.
Hari ketika aku berkunjung adalah hari dimana mereka sedang menggelar upacara adat. Upacara adat untuk memperingati Maulid Nabi, sesuai dengan agama yang secara homogen dianut oleh seluruh penduduk kampung, Islam. Ternyata upacara adat rutin dilakukan enam kali dalam setahun, tepat setelah setiap perayaan hari besar Islam.
Aku, sebagai pendatang, tidak diperbolehkan melihat prosesi upacara sakral itu. Namun selepas para tetua itu merampungkan ritual keramat itu, turunlah mereka dari bagian paling tinggi kampung dengan wajah tenang dan bangga. Pakaian putih serupa jas terusan panjang berwarna putih dengan bahan kaku dan lusuh seragam mereka kenakan. Ikat kepala dengan motif batik kecoklatan gelap seragam pula menghiasi kepala. Celana hitam setengah betis serta bertelanjang kaki membetulkan pagar-pagar wilayah keramat kampung.
Ekspresi wajah pun rata-rata seragam, atau juga terlihat seragam karena stereotype wajah yang hampir seragam. Tenang, ceria, bangga, tidak berambisi dan tidak risau.
Tidak serisau aku yang mengkhawatirkan keberlangsungan tradisi mereka.
Resah diriku melihat muda-mudi yang berdatangan dari luar kampung itu. Mereka adalah turunan langsung kampung naga yang berjarak satu dua generasi dari para tetua itu. Mereka ada yang tinggal di dalam kampung, pun ada yang sudah bermukim di luar kampung. Mereka beragam usianya, mulai dari 13 hingga 30-an sepertinya.
Wajah mereka mengguratkan kegelisahan. Gaya rambut mereka menyiratkan tidak tenangnya pikiran mereka. Dan celana mereka, rata-rata adalah celana jins berujung lancip dan ketat (sebuah model celana yang sampai sekarang tidak mampu kutemukan nilai estetikanya).
Beda halnya dengan Abib.
Penjaga gerbang kampung yang seumuran dengan muda-mudi ini (mungkin sekitar 20-an awal). Abib menyambut kami setiba kami di kampung ini. Dihampiri kami yang hendak selonongan mencari info di situ, dan dengan nada lembut nan sopan juga dibumbui nada yang sangat bangga, ”Maaf, mas… saya ditugaskan oleh para tetua kampung untuk menjadi gerbang kampung ini. Tugas saya adalah menyambut semua tamu luar yang datang dan kemudian mengarahkannya kepada Pak Kuncen (sebutan untuk tokoh tetua yang paling tinggi).”
Tugas protokoler rupanya dia, dan dari caranya memperkenalkan diri sungguh aku terkesan dengan penjiwaanny terhadap peran tersebut.
Namun Abib, apakah engkau dan generasimu (generasi kita) yang bercelana jins ketat di ujung ini mampu berwajah tenang, ceria, bangga, tidak berambisi dan tidak risau selayaknya tetua kalian saat ini?
Hidup selaras dengan alam…
Bertahan dengan filsafat hidup dan kearifan yang terakumulasi selama puluhan atau bahkan ratusan generasi…
Sebuah cara hidup yang menafikan nikmatnya harta dan agungnya kekuasaan…
Aku cuma mengenalmu, Kampung Naga, satu hari.
Engkau adalah negeri yang damai.
Aku sangat suka kepadamu.
Dan mungkin karenanya aku merasa risau kepada tradisi agungmu.
Namun aku tidak tahu apa yang terbaik untukmu, dan para generasi penerusmu kelak.
Maafkan aku….
Awan Fajar
Ciputat; Tangerang
26 Maret 2008; 21:14 WIB

Recent Comments