TERKADANG PUISI ITU HARUS MATI
A dan B…
A :
Entah dirimu setuju atau tidak, namun kupikir puisi itu terkadang harus mati.
B :
Mengapa?
Bukankah dirimu menyenangi puisi?
Begitu juga diriku, ketika menyimak kata berbaris dengan gemulai dalam susunan kalimat-kalimat hasil dari dirimu…
A :
Aku tahu dirimu menyukainya.
Begitu pun diriku… terutama saat matamu mulai malacak tiap-tiap huruf yang kutulis itu. Demikiannya bola mata itu bergerak seirama dengan sunggingan senyum.
Aku pun menyukainya ketika aku menyusun kata-kata tersebut… sama dengan ketika aku menikmati menyaksikan dirimu menikmatinya.
B :
Lalu kenapa harus mati puisi itu jika memang dirimu dan diriku menyukainya… dan menyukainya pun dengan begitu sangatnya?
A :
Karena puisi itu dapat melahirkan senyum bukan hanya pada dirimu.
Karena kalimat-kalimat pada puisi itu dapat menghanyutkan bukan hanya kita berdua.
Karena kata-kata pada puisi itu bisa melayangkan khayal tidak hanya dirimu dan diriku.
Relakah dirimu ketika puisi-puisi milikku menjadi tidak hanya milik dirimu dan diriku?
B :
Aku rela…
Karena baik bagi diri mereka yang lain untuk juga tersenyum.
Karena baik pula bagi diri mereka yang lain untuk terhanyut.
Dan terntunya karena baik jua bagi diri mereka yang lain untuk melayang-layang bersama khayalnya.
A :
Aku tidak…
Dan karenanya terkadang puisi itu harus mati.
Apalagi ketika tidak lagi kubuatkan puisi itu untukmu.
Awan Fajar
Neglasari; Tangerang
23 Juni 2009: 15:50 WIB

wina br ngerti apa maksud puisi km,…
mdh2an ada jejak2 dwi2 yg lainnya y..
salut ..chayo..cahyo..