Bapak, Jangan Melaut Malam Ini
Wajah risau seorang wanita
Mulutnya t’lah membisu terasa berhari-hari
Dan dia, yang istri seorang nelayan akhirnya membuka bicara,
“Bapak, jangan melaut malam ini.”
“Ombak tingginya empat, enam meter
Tak peduli dimana
Selat Sunda dan Madura
Atau mana pun laut berada
Bapak, jangan melaut malam ini. Tolong…”
Nelayan kekar berkulit kelam berminyak
Dia menjawab mantap,
“Kita tidak punya uang lagi. Uang terakhir sudah terbeli dengan solar yang semakin mahal ini.
Berhari-hari mereka menggenang tidak berdaya di tepi kapalku.
Kapalku telah berbulan lamanya diperolok gelombang tinggi.
Dan solar itu akan menguap jika tetap saja kutunda untuk tidak berlayar.
Tidak bisa kubiarkan uang terakhir kita menguap.”
Wajah risau menggigit bibir,
“Bapak, jangan melaur mala mini. Kumohon.”
“Banyak celaka dan bencana di sana.
Laut sudah murka dan memakan banyak nyawa”
Dijawab pula dengan mantap,
“Aku telah mengenal laut sepanjang hidupku.
Selat Sunda dan Madura
Atau di mana pun dia berada
Aku dan dia adalah sahabat
Sahabat tidak akan mencelakai sesame sahabat.”
“Aku akan melaut malam ini.”
Dan engkau, nelayan kekar berkulit kelam berminyak
Engkau benar…
Laut adalah sahabatmu
Tidak dia yang akan merenggut nyawamu
Tapi kami adalah malaikat pencabut nyawamu
Kami yang sudah meludahi tanah bumi dengan sampah-sampah kami
Kami yang sudah menggunduli hutan bumi dengan keserakahan kami
Kami yang sudah menjarah perut bumi dengan ketamakan kami
Kami yang sudah mengasapi udara bumi dengan keteledoran kami
Kami yang sudah menyia-nyiakan kemurahan hati bumi dengan ketidakpedulian kami
Kami adalah malaikat perenggut nyawamu
Jadi nelayan kekar berkulit kelam berminyak, jangan melaut mala mini
Awan Fajar
Ciputat; Tangerang
12 Juli 2008; 15:09 WIB


argh…, mereka hanya sekedar ingin bertahan hidup dengan apa yang mereka mampu.
benar-benar tulisan yang terpendam di lautan, termerdekakan oleh blog…
semakin mengejar STA…pyuh…
kal nulis yang serius kayak gini, pengennya gak jadi kenyataan..
serem…