Ora Awan Ora Mbengi, Tetep Peteng

Kalimat ini terucap pada hari Sabtu yang lalu oleh salah seorang teman bernama Mayor. Sampai hari ini kalimat ini pula kerap terngiang-ngiang seperti minta diabadikan pada sebuah tulisan. Tidak berlebih permintaannya sebab konsttruksi kalimat ini sudah cukup mumpuni untuk menjadi sebuah kutipan. Bayangkan sebuah skripsi yang halamannya depannya dihiasi dengan kalimat:

 

Ora Awan Ora Mbengi Tetep Peteng

By Mayor

Atau buku bestseller yang sampulnya berkata:

Ora Awan Ora Mbengi Tetep Peteng

By Mayor

Atau pidato kenegaraan dan kuliah umum yang berisikan kalimat:

… Seorang bijak pernah bernama Mayor pernah berkata “Ora Awan Ora Mbengi Tetep Peteng” bla bla bla…

 

Cukup pantas atau lumayan ngangkatlah jika kalimat ini dijadikan kutipan semacam tersebut. Oleh karena itu, demi mengabadikan kalimat dahsyat tersebut dan demi membuka kesempatan nama sahabat saya Sang Mayor dikutip oleh kaum intelektualis maka tulisan ini dilahirkan.

 

Namun untuk dapat mengutip kata-kata ini dengan tepat, kurasa sangat penting untuk terlebih mengetahui konteks pengucapan kalimat ini. Kalimat ini pertama kali terucap ketika Sang Mayor sedang bercerita mengenai sebuah hotel remang-remang yang terletak di sebelah kantor tempat dia dulu bekerja. Mayor cukup sering berkisah tentang hotel remang ini, dan setiap kali pula kisahnya disampaikan dengan antusiasme berapi-api.

 

Tidak begitu jelas kenapa sering betul cerita-cerita dibeberkannya… apakah karena keingintahuannya? Apakah karena topic tersebut menyenangkan untuk diceritakan? Atau apakah karena sebuah rasa prihatin yang mendalam terhadap kemerosotan moralitas para pengunjung hotel remang tersebut?

 

Sekali lagi, hari Sabtu yang lalu cerita tentang hotel remang ini digulirkan. Kali Mayor berkisah tentang petualangannya ketika menyusup masuk ke dalam kubangan dosa tersebut. Kepentingannya? Bukan sebagai pengunjung tentunya…!!!!

Mayor ini adalah individu berintegritas tinggi yang tidak akan bermain-main dengan kegiatan seksual kecuali dengan pasangan yang disyahkan secara agama dan hokum yang berlaku.

 

Mulai masuk ke lobby hotel, Mayor melakukan orientasi medan dan segera mencari tahu tentang letak kegiatan inti hotel ini. Lantai tujuh… LANTAI TUJUH… itulah informasi yang diperolehnya. Setelah menaiki lift, beliau sampai di lantai tujuh dan di situlah keajaiban sedang berlangsung (rasa-rasanya untuk bagian keajaiban ini tidak perlu dijelaskan panjang lebar demi alas an kepatutan dan kesopanan). Dikatakannya dengan mantap, “Waduh… di sana itu gelap betul, padahal masih siang. Ora awan ora mbengi, tetep peteng.”

 

Pada kalimat inilah kutipan dahsyat tersebut terlahir. Memang hanya sebuah perbincangan sederhana antar teman. Bukan debat terbuka interaktif oleh pakar-pakar terkemuka. Namun makna yang terkandung tidak hanya sekedar berkonteks pada situasi pada sebuah ruang maksiat di hotel mesum, akan tetapi juga mampu mewakili kondisi social Negara ini.

 

Ketika segala sesuatu sudah ruwet seperti sekarang, maka ungkapan yang tepat merupakan kebalikan dari “Habis gelap terbitlah terang”-nya Ibu Kita Kartini. Akan tetapi “Ora awan ora mbengi, tetep peteng.”-nya Sang Mayor.

 

Awan Fajar

Ciputat; Tangerang

11 Juli 2008; 06:23 WIB

~ by bajajdijalurcepat on July 10, 2008.

7 Responses to “Ora Awan Ora Mbengi, Tetep Peteng”

  1. Hahaha :o memang ya,,, yang namanya Mayor itu sosok sederhana nan mumpuni…

  2. hohohoho…
    sepakat, ora awan ora mbengi tetep peteng. tapi kalo pada mbawa lentera sendiri2 mungkin akan jadi terang… gimana?

  3. Menurut Jendral:
    Peteng Rubet Tandane urip wis mampet..!
    :lol:

  4. berarti ora awan ora mbengi tetap penak…:)

  5. ora awan ora mbengi lodse dab :)

  6. ben peteng…tapi tetep mlaku..
    kalo nabrak kan ada asuransi

  7. beli lampu osram aja, garansi 1 tahun, hemat energi pula.

Leave a Reply