TERKADANG PUISI ITU HARUS MATI

•June 23, 2009 • 1 Comment

A dan B…

 A             :
Entah dirimu setuju atau tidak, namun kupikir puisi itu terkadang harus mati.

B             :
Mengapa?
Bukankah dirimu menyenangi puisi?
Begitu juga diriku, ketika menyimak kata berbaris dengan gemulai dalam susunan kalimat-kalimat hasil dari dirimu…

A             :
Aku tahu dirimu menyukainya.
Begitu pun diriku… terutama saat matamu mulai malacak tiap-tiap huruf yang kutulis itu. Demikiannya bola mata itu bergerak seirama dengan sunggingan senyum.

Aku pun menyukainya ketika aku menyusun kata-kata  tersebut… sama dengan ketika aku menikmati menyaksikan dirimu menikmatinya.

B             :
Lalu kenapa harus mati puisi itu jika memang dirimu dan diriku menyukainya… dan menyukainya pun dengan begitu sangatnya?

A             :
Karena puisi itu dapat melahirkan senyum bukan hanya pada dirimu.
Karena kalimat-kalimat pada puisi itu dapat menghanyutkan bukan hanya kita berdua.
Karena kata-kata pada puisi itu bisa melayangkan khayal tidak hanya dirimu dan diriku.

Relakah dirimu ketika puisi-puisi milikku menjadi tidak hanya milik dirimu dan diriku?

 B       :
Aku rela…

Karena baik bagi diri mereka yang lain untuk juga tersenyum.
Karena baik pula bagi diri mereka yang lain untuk terhanyut.
Dan terntunya karena baik jua bagi diri mereka yang lain untuk melayang-layang bersama khayalnya.

A             :
Aku tidak…

Dan karenanya terkadang puisi itu harus mati.

Apalagi ketika tidak lagi kubuatkan puisi itu untukmu.

Awan Fajar
Neglasari; Tangerang
23 Juni 2009: 15:50 WIB

Imperialisme Angka

•October 12, 2008 • 3 Comments

Angka menurutku adalah sebuah konsep yang menakjubkan…

 

Seharusnya di awal penciptaannya, angka dibuat agar kita dapat mengukur segala sesuatunya dengan sebuah takaran yang bersifat universal. Para ilmuwan muslim yang aku tidak begitu ingat namanya seharusnya menciptakan angka nol agar kita memiliki satu titik yang seragam untuk memulai proses pengukuran itu.

 

Namun pada perkembangannya proses pengukuran ini menjadi begitu menggurita, sehingga kondisi psikologis kita pun mulai dijajah dengan konsep angka ini.

 

Aku menyadari hal ini ketika aku sedang lari pagi. Mungkin sekitar 10 putaran sudah kulewati. Kondisi fisik pada saat itu seharusnya masih menyanggupi untuk melakukan beberapa putaran lagi (yang kemudian diukur dengan angka). Namun dua hal kemudian menghinggapi pikiranku.

 

Yang pertama adalah pada hari sebelumnya aku teringat telah berlari sekian putaran, sehingga jika aku berlari sekian putaran, maka pencapaianku hari ini akan tetap lebih baik daripada hari sebelumnya. Yang menjadi orientasi pemikiran bukan lagi kondisi fisik, namun konsep angka yang mewakili putaran yang telah dilewati.

 

Kemudian yang kedua adalah waktu pada saat itu telah menunjukkan jam sekian. Yang artinya aku tinggal memiliki waktu sekian untuk mempersiapkan diri kepada aktifitas yang berikutnya. Lagi-lagi angka.

 

Setelah menyadari kedua hal tersebut, nafasku kemudian mulai tersengal-sengal dan langkah mulai terasa enggan untuk diayunkan. Padahal hanya beberapa menit sebelumnya segala sesuatu terasa begitu baik dengan kondisi fisikku. Mungkinkah sisi psikologis yang bermain di situ?

Sisi psikologis yang diciptakan oleh konsep angka.

 

Sama dengan efek psikologis yang diciptakan oleh labilnya situasi moneter global pada saat ini. Angka ini turun, indeks itu anjlok, suku bunga itu disesuaikan, nilai tukar tidak dapat diprediksi dan sebagainya. Angka-angka ini sudah mulai menjajah kita.

Awan Fajar

Ciputat, Tangerang

12 Oktober 2008; 09.49 WIB

Cinta…Cinta…

•August 16, 2008 • 4 Comments

 

That was the only time I dared to ask her: “Why do you love me?”

 

She replied: “I don’t know and I don’t care.”

 

Now, as I put the finishing touches to these pages, I believe I may have found the answer in her last conversation with the journalist.

 

“Love simply is.”

The Witch From Portobello

Paulo Coelho

 

Berbicara tentang cinta mungkin bukan lagi sebuah topik yang pantas dibahas oleh sosok yang sudah melwati usia seperempat abad. Namun kata-kata terakhir pada kutipan di atas pada kenyataannya cukup menggangguku.

 

Aku membacanya beberapa hari yang lalu. Sampai hari ini aku masih mencoba mengurai makna dari tiga kata tersebut, dan tidak ada kemajuan sama sekali.

 

Cinta adalah mencintai. Titik…

“Love is not a habit, a commitment, or a debt. It isn’t what romantic songs tell us it is – love simply is.”

 

Apakah mungkin ada sosok manusia dengan kesadaran penuh yang mampu melakukan itu?

 

Ketika seseorang berkata, “Aku sayang kamu.”, adalah kebohongan besar jika tidak ada harapan dari lubuk hatinya yang terdalam bahwa pasangannya juga akan berkata: “Aku sayang kamu juga.”

 

Atau ketika perasaan sayang itu mulai merasuk ke dalam rongga-rongga hati, mungkinkah tidak timbul keinginan untuk memeluk erat seseorang itu? Sangat erat hingga perjalanan waktu menjadi sesuatu yang dapat dengan mudah diabaikan.

 

Dan sebut saja lagi bentuk-bentuk ekspresi cinta lainnya. Rasa puas yang tidak tergambarkan akan merebak di dalam diri begitu berbagai ekspresi tersebut disalurkan.

 

Dan proses ini juga melibatkan ekspektasi resiprokal… sesuatu yang wajar. Sesuatu yang sangat wajar.

 

Love simply is…

 

Awan Fajar

Ciputat; Tangerang

16 Agustus 2008; 08:21 WIB

Hari Anak Nasional – Anak Siapa? Merayakan Apa?

•July 27, 2008 • 6 Comments

23 Juli 2008

“Mas, hari ini Hari Anak Nasional lho? Gimana, neh?”

Kalimat pembuka yang diberikan oleh Miss Reyta,  manajer program di Taman Kanak-Kanak tempatku bekerja, ketika kami bersua pagi-pagi.

 

“Trus gimana? Mesti kita rayain, donk…”, responku. Dan boleh kukatakan bahwa respon tersebut adalah sebuah tanggapan yang cukup dungu, sebab aku sama sekali tidak memberikan solusi pada masalah.

 

“Ntar kupikirin, deh…”, beliau membalas dan melenggang pergi.

 

Hasil buah pikiran yang dihasilkannya ternyata adalah anak-anak akan diajak merayakan Hari Anak Nasional dengan menghias kue ulang tahun yang terbuat dari kardus-kardus bekas. Kami menyiapkan cat agar anak dapat mewarnai kue ulang tahun raksasa mereka. Kemudian disiapkan juga Koran-koran bekas yang dipilin bulat sebesar genggaman, daun-daun kaca piring, jati, pelepah pisang dan beberapa jenis daun lainnya yang berwarna-warni sebagai hiasan yang dapat ditempel anak di kue tersebut.

 

Alhasil anak-anak dikumpulkan di selasar utama TK, kemudian pengumuman diberikan oleh Miss Reyta, “Selamat pagi, anak-anaaaaaaakkkkkk… tau gak? Hari ini hari apa?”

 

Ada yang melongo, ada yang angkat tangan, ada yang bilang “Tauuuuuuuuu……”, ada yang bilang “Gak tauuuuuuuuuu……”, ada yang bilang “ HARI RABU.”, ada yang macam-macam pokoknya.

 

“Hari ini ada yang ulang tahun, lhhhhoooooo…. Siapa coba yang ulang tahun?”

“Yang ulang tahun itu kita semuaaaaaaa……”

 

Semuanya melongo. Termasuk aku juga….

 

“Hari adalah Hari Anak Indonesia. Yang orang Indonesia siapaaaaaa…..?”

 

“AAkkkkkuuuuuuuuu………”, semuanya serempak, termasuk aku juga.

 

“Yang anak-anak siapaaaaaa……?”

 

“Akkkkkuuuuuuuuuu……”, semuanya serempak lagi, tapi aku tidak ikut dengan rombongan kali ini.

 

“Jadi semua yang Anak Indonesia ulang tahun hari ini.”

 

“YYYYYYEEEEEEE……….”

 

“Karena kita ulang tahun, sekarang kita nyanyi lagu Aku Anak Indonesia. Trus kita semua akan menghias kue ulang tahun kita bersama-samaaaaa…..”

 

“YYYYYEEEEEEEE……….”

 

Jadi itukah yang dirayakan?

Sebab penggalian informasi yang kulakukan hanya menemukan bahwasannya Hari Anak Nasional ini adalah hari yang didedikasikan kepada anak Indonesia. Jadi apa yang dirayakan? Trus kenapa jika memang anak Indonesia memang memiliki satu hari dari tiga ratus enam puluh lima hari di almanac Indonesia?

 

Apakah akan nada perubahan pada nasib mereka dengan penghibahan hak milik sebuah hari?

 

 

Awan Fajar

Ciputat; Tangerang

28 Juli 2008; 06:35 WIB

 

 

Selamat Tidur

•July 22, 2008 • 3 Comments

null

Sebuah hari adalah sebuah jalan

Membentang panjang, pendek, berliku, menikung, menyimpang

Dan jalan pun hari itu membentang pada sebuah penutupan

 

Hikayat sederhana disampaikan sebagai penutupan pada harimu

Berkisah tentang peri-peri bunga tidur

Kuharap dapat tersenyum dirimu sedapatnya bersua dengan yang disampaikan ini

Baik bila harimu panjang, pendek, berliku, menikung, menyimpang…

Pun… kuharap jangan… melelahkan

(sebab senyum dalam harimu dan tidurmu adalah anugerah bagi hariku dan tidurku)

 

Alkisah…

Lima peri bunga tidur mengembara dalam kelap-kelip senyap sebuah kota

Bertemu kepada gelisahnya seorang gadis jelita

Gemulai dirinya selayak peri, dan berparas setara bidadari

 

Mereka menari di sekeliling gadis ini

Tidak satu pun bertanya muasal gelisahnya

Mereka hanya menemani

Pun juga mengajaknya berbicara

Karena sang gadis jelita sedang ingin menyimpan peti kata-kata

 

Peri-peri bunga tidur ini memang begini adanya

Tercipta oleh-Nya dengan sebuah tugas mulia

Memadukan gelisah dengan ceria

Tari-tari lentik bersama gelak tawa

 

Sang gadis jelita

Walau sendirian

Tak sadar sedang dihibur peri-peri bunga tidur

Akhirnya bersua jua dengan tenangnya hati

 

Namun matanya belum jua terkatub

Padahal malam telah bertemu pertengahannya

 

Berkumpul pun peri-peri bunga tidur, dan berlantun bersama-sama:

“Wahai gadis cantik jelita

Tolong katubkan kelopak indahmu

Agar dapat nanti matamu melihat kami

Kami yang sedang meniti jembatan awan

Dapat kita nikmati bersama

Embun-embun kesejukan yang dibawa oleh keindahan dunia impian”

 

Selamat tidur, baby…

 

Awan Fajar

Ciputat; Tangerang

22 Juli 2008; 22:42 WIB

 

 

 

Liburan Pertamaku ke Bandung

•July 22, 2008 • 9 Comments

Namaku Handaru, murid kelas 3 SD New Mexico di Kebayoran Lama, Jakarta.

 

Minggu lalu, aku senang sekali. Aku diajak Ibuku berjalan-jalan ke Bandung. Ini pertama kalinya aku pergi ke kota yang dijuluki Kota Kembang itu. Pasti sangat menyenangkan.

 

Sebenarnya ibuku pergi ke Bandung bukan untuk berlibur. Tapi untuk bekerja. Studi banding katanya. Namun ibu mengajakku ikut karena aku kebetulan sedang libur kenaikan kelas.

 

Kami berangkat dari tempat kerja ibuku, di Bambini Children Centre, sekitar jam tiga sore. Yang berangkat adalah tante-tante yang jadi guru di Bambini. Ada tante Vivit (orang Jawa asli…kalem banget), tante Yeni (hobinya ketawa terus), tante Ndaru (tante ini bosnya, soalnya tante ini yang pegang duit), tante Intan (yang katanya artis tapi kok aku gak pernah ngeliatnya di tivi, ya?), dan ibuku (yang paling gendut di mobil). O, iya…ada satu lagi. Supir di tempat kerja ibuku, Om Dwi namanya.

 

Kami pergi lewat jalan tol. Jalannya panjaaaaannnnnggggg banget, trus lebbbbbaaaaarrrrr banget. Lancer banget… Om Dwi jadinya ngebut banget bawa mobilnya. Coba jalan di Jakarta lebar-lebar dan lancer-lancar kayak gini semua. Pasti asik tinggal di Jakarta.

 

Sampai di tol Cipularang, aku mulai melihat pemandangan-pemandangan yang bagus. Ada bukit-bukit yang tinggi. Ada padang rumput yang luas. Ada sungai yang deras. Ada rumah-rumah yang dibangun di punggung bukit juga, lho. Berjejer-jejer keren banget, deh. Dan ada juga rel kereta yang dibangun di atas lembah. Jadi kayak jembatan tapi buat kereta. Wwwaaaahhhhh…. Baru sekali ini aku melihat pemandangan seperti ini. Biasanya di Jakarta Cuma ada rumah dan gedung-gedung saja.

 

Sampai di Bandung, kami shalat maghrib dulu. Waktu aku ambil air wudhu…. Bbbbbbrrrrrrrr…..airnya dingin banget. Mungkin karena udaranya dingin banget. Iya, lho… Bandung itu dingin. Enak banget. Sejuk…sejuk…

 

Kami jalan-jalan keliling Bandung. Makan bakso sama iga bakar. Tante Yeni yang milih tempatnya. Enak banget, deh. Trus ke took baju, took barang bekas, dan banyak tempat yang lain. Bagus-bagus semua.

 

Akhirnya kami semua kecapekan. Kami menginap di rumah Tante Yeni di daerah Gua Batu katanya. Dingin banget malem-malem di Bandung. Aku harus pake selimut.

 

Besoknya kami jalan-jalan lagi. Pokoknya menyenangkan… lain kali aku ingin berlibur lebih lama di Bandung.

 

Awan Fajar

Ciputat; Tangerang

22 Juli 2008; 21:37 WIB

Bahasa Spanyol

•July 22, 2008 • 6 Comments

Terjaga, Entah Karena Apa

•July 20, 2008 • 1 Comment

Jika pada malam hari engkau terjaga

Mata terbuka semalaman tanpa kau tahu kenapa

 

Mungkin hari itu adalah yang tidak begitu menyenangkan

Segala sesuatu tidak berjalan seperti yang diinginkan

 

Atau mungkin juga perut yang keroncongan

Walau makan malam yang disantap rasa-rasanya sudah berkecukupan

 

Bisa juga karena ibadah yang begitu terombang-ambing seperti tidak bertuhan

Kadang dilakukan kadang tidak pula hanya suasana hati yang memutuskan

 

Atau karena hati sedang mencari siapa yang dapat dirindukan

Mengisi hari dan menenangkan malam

 

Agar tidak lagi mata terjaga semalaman

Tidak tenang rasanya entah karena apa

Bapak, Jangan Melaut Malam Ini

•July 13, 2008 • 3 Comments

null

Wajah risau seorang wanita

Mulutnya t’lah membisu terasa berhari-hari

Dan dia, yang istri seorang nelayan akhirnya membuka bicara,

“Bapak, jangan melaut malam ini.”

 

“Ombak tingginya empat, enam meter

Tak peduli dimana

Selat Sunda dan Madura

Atau mana pun laut berada

Bapak, jangan melaut malam ini. Tolong…”

 

Nelayan kekar berkulit kelam berminyak

Dia menjawab mantap,

“Kita tidak punya uang lagi. Uang terakhir sudah terbeli dengan solar yang semakin mahal ini.

Berhari-hari mereka menggenang tidak berdaya di tepi kapalku.

Kapalku telah berbulan lamanya diperolok gelombang tinggi.

Dan solar itu akan menguap jika tetap saja kutunda untuk tidak berlayar.

Tidak bisa kubiarkan uang terakhir kita menguap.”

 

Wajah risau menggigit bibir,

“Bapak, jangan melaur mala mini. Kumohon.”

 

“Banyak celaka dan bencana di sana.

Laut sudah murka dan memakan banyak nyawa”

 

Dijawab pula dengan mantap,

“Aku telah mengenal laut sepanjang hidupku.

Selat Sunda dan Madura

Atau di mana pun dia berada

Aku dan dia adalah sahabat

Sahabat tidak akan mencelakai sesame sahabat.”

 

“Aku akan melaut malam ini.”

 

Dan engkau, nelayan kekar berkulit kelam berminyak

Engkau benar…

Laut adalah sahabatmu

Tidak dia yang akan merenggut nyawamu

 

Tapi kami adalah malaikat pencabut nyawamu

Kami yang sudah meludahi tanah bumi dengan sampah-sampah kami

Kami yang sudah menggunduli hutan bumi dengan keserakahan kami

Kami yang sudah menjarah perut bumi dengan ketamakan kami

Kami yang sudah mengasapi udara bumi dengan keteledoran kami

Kami yang sudah menyia-nyiakan kemurahan hati bumi dengan ketidakpedulian kami

Kami adalah malaikat perenggut nyawamu

Jadi nelayan kekar berkulit kelam berminyak, jangan melaut mala mini

 

Awan Fajar

Ciputat; Tangerang

12 Juli 2008; 15:09 WIB

 

Ora Awan Ora Mbengi, Tetep Peteng

•July 10, 2008 • 7 Comments

Kalimat ini terucap pada hari Sabtu yang lalu oleh salah seorang teman bernama Mayor. Sampai hari ini kalimat ini pula kerap terngiang-ngiang seperti minta diabadikan pada sebuah tulisan. Tidak berlebih permintaannya sebab konsttruksi kalimat ini sudah cukup mumpuni untuk menjadi sebuah kutipan. Bayangkan sebuah skripsi yang halamannya depannya dihiasi dengan kalimat:

 

Ora Awan Ora Mbengi Tetep Peteng

By Mayor

Atau buku bestseller yang sampulnya berkata:

Ora Awan Ora Mbengi Tetep Peteng

By Mayor

Atau pidato kenegaraan dan kuliah umum yang berisikan kalimat:

… Seorang bijak pernah bernama Mayor pernah berkata “Ora Awan Ora Mbengi Tetep Peteng” bla bla bla…

 

Cukup pantas atau lumayan ngangkatlah jika kalimat ini dijadikan kutipan semacam tersebut. Oleh karena itu, demi mengabadikan kalimat dahsyat tersebut dan demi membuka kesempatan nama sahabat saya Sang Mayor dikutip oleh kaum intelektualis maka tulisan ini dilahirkan.

 

Namun untuk dapat mengutip kata-kata ini dengan tepat, kurasa sangat penting untuk terlebih mengetahui konteks pengucapan kalimat ini. Kalimat ini pertama kali terucap ketika Sang Mayor sedang bercerita mengenai sebuah hotel remang-remang yang terletak di sebelah kantor tempat dia dulu bekerja. Mayor cukup sering berkisah tentang hotel remang ini, dan setiap kali pula kisahnya disampaikan dengan antusiasme berapi-api.

 

Tidak begitu jelas kenapa sering betul cerita-cerita dibeberkannya… apakah karena keingintahuannya? Apakah karena topic tersebut menyenangkan untuk diceritakan? Atau apakah karena sebuah rasa prihatin yang mendalam terhadap kemerosotan moralitas para pengunjung hotel remang tersebut?

 

Sekali lagi, hari Sabtu yang lalu cerita tentang hotel remang ini digulirkan. Kali Mayor berkisah tentang petualangannya ketika menyusup masuk ke dalam kubangan dosa tersebut. Kepentingannya? Bukan sebagai pengunjung tentunya…!!!!

Mayor ini adalah individu berintegritas tinggi yang tidak akan bermain-main dengan kegiatan seksual kecuali dengan pasangan yang disyahkan secara agama dan hokum yang berlaku.

 

Mulai masuk ke lobby hotel, Mayor melakukan orientasi medan dan segera mencari tahu tentang letak kegiatan inti hotel ini. Lantai tujuh… LANTAI TUJUH… itulah informasi yang diperolehnya. Setelah menaiki lift, beliau sampai di lantai tujuh dan di situlah keajaiban sedang berlangsung (rasa-rasanya untuk bagian keajaiban ini tidak perlu dijelaskan panjang lebar demi alas an kepatutan dan kesopanan). Dikatakannya dengan mantap, “Waduh… di sana itu gelap betul, padahal masih siang. Ora awan ora mbengi, tetep peteng.”

 

Pada kalimat inilah kutipan dahsyat tersebut terlahir. Memang hanya sebuah perbincangan sederhana antar teman. Bukan debat terbuka interaktif oleh pakar-pakar terkemuka. Namun makna yang terkandung tidak hanya sekedar berkonteks pada situasi pada sebuah ruang maksiat di hotel mesum, akan tetapi juga mampu mewakili kondisi social Negara ini.

 

Ketika segala sesuatu sudah ruwet seperti sekarang, maka ungkapan yang tepat merupakan kebalikan dari “Habis gelap terbitlah terang”-nya Ibu Kita Kartini. Akan tetapi “Ora awan ora mbengi, tetep peteng.”-nya Sang Mayor.

 

Awan Fajar

Ciputat; Tangerang

11 Juli 2008; 06:23 WIB

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.